18 Nov
Termasuk UKM di kelas manakah Anda? Ayo kenali cluster UKM di SETC!
Pinnacle Pendapatan > Rp. 2.500.000.000,- Berniat memenuhi pasar luar negeri tetapi tidak mengerti bagaimana melakukan ekspor Membutuhkan strategi untuk menemukan investor dan mitra bisnis untuk mengembangkan bisnis Perlu memahami tata kelola perusahaan Harus mengikuti perkembangan global Collaborator Pendapatan < Rp. 301.000.000 - Rp.900.000.000, - / tahun Mampu berproduksi hingga jumlah tertentu tetapi masih perlu memantau kualitas produksinya Mulai menghadapi tantangan kesinambungan produksi karena mereka menghadapi tantangan mempertahankan pekerja terampil Mulai memahami kebutuhan untuk mendelegasikan tugas dan memahami sistem organisasi Ingin menjadi lebih besar tetapi membutuhkan dorongan dan pengetahuan untuk meningkatkan bisnis Mulai memahami pentingnya akuntansi dan perpajakan Perlu membangun merek produk atau layanan mereka Collaborator + Pendapatan < Rp. 901.000.000, - - Rp.2.500.000.000, - / tahun Menyadari peluang untuk memenuhi permintaan pasar domestik, tetapi mereka membutuhkan sumber modal bisnis alternatif Mulai menghadapi tantangan dalam mempertahankan rantai pasokan Merasa perlu untuk melakukan negosiasi dengan konsumen dan pemasok Mengerti untuk berinovasi agar menjadi besar Sangat membutuhkan untuk memahami manfaat teknologi digital untuk bisnis mereka Igniter Pendapatan < Rp. 150.000.000, - per tahun Sudah memulai dan menjalankan usaha kecil tetapi masih membutuhkan modal finansial untuk dapat berproduksi secara teratur Telah mampu menjalankan produksi tetapi masih menghadapi tantangan dalam menjaga kontinuitas dan konsistensi dalam produksi Sudah mengerti dan merasakan manfaat menjadi wirausaha, tetapi masih perlu meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka Igniter + Pendapatan < Rp. 151.000.000 - Rp. 300.000.000, - / tahun Telah mampu menjalankan produksi secara teratur tetapi masih membutuhkan modal finansial untuk menghasilkan lebih banyak Perlu membuat rencana agar bisnis dapat bertumbuh Mulai menghadapi tantangan dalam menjaga kontinuitas bahan baku Mulai memahami perlunya menggunakan media sosial untuk mempromosikan produk / layanan mereka Menghadapi kesulitan untuk bernegosiasi dengan karyawan
18 Nov
Ferry Sukses Dengan Filosofi Alam Batik
Melalui pembinaan Sampoerna, karya batiknya dijual hingga Rp 250 juta. Mampu menembus pasar Korea, Australia, dan sejumlah negara di Eropa. Sejak kecil, pria asal Pasuruan ini sebenarnya sudah sangat dekat dengan dunia batik. Ayah dan ibunya adalah pengusaha batik. Namun, hingga dewasa, Ferry Sugeng Santoso sama sekali tidak tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan batik, apalagi memproduksi dan berbisnis batik. Semua itu berubah ketika pada 2006, ia terpaksa harus mewakili kedua orang tuanya memenuhi undangan pelatihan pewarnaan batik alam yang diselenggarakan Kementerian Perindustrian di Yogyakarta. Dari sanalah, ia mulai mengenal keindahan dan kekuatan batik serta mulai jatuh cinta pada budaya asli Indonesia ini. “Saya disuruh berangkat. Mungkin ya sudah jalannya. Awalnya, saya tidak mau sama sekali. Oleh panitia, semua harus membatik, akhirnya mau tidak mau. Padahal, saya belum pernah sama sekali membatik,” kata Ferry. Meski terpaksa, pria kelahiran 13 April 1980 ini menjalani pelatihan itu dengan baik. Semua hal tentang batik dan pewarnaan alam dipelajarinya. Tanpa ia sadari batik mengajarkan banyak hal lain pada dirinya. “Bagaimana seharusnya hidup bermasyarakat, harmoni dengan lingkungan, menjalin kemesraan dengan Tuhan. Filosofinya saya dapat di situ. Kita bisa belajar sinergi dengan masyarakat serta alam. Ternyata batik mengajarkan saya sampai sejauh itu,” ucapnya. Pada 2009, Ferry menerima pendampingan usaha dari PPK Sampoerna yang merupakan salah satu program Sampoerna Untuk Indonesia. Di sini, ia memadukan keindahan batik khas berciri pewarna alami dengan motif batik yang memiliki kekuatan makna dan mengandung filosofi. “Filosofi yang bisa mengubah orang yang mengenakannya. Contohnya, motif kawung. Motif kawung diciptakan untuk raja agar dia menjadi seorang pemimpin yang benar, bukan bijak. Bijak belum tentu benar. Kalau benar, pasti bijak. Akhirnya, saya buat motif demikian,” ujarnya. Bahkan Ferry melayani pembuatan batik pesanan khusus yang dibuat dalam waktu cukup lama. Tujuannya, menyelami karakter pemesan agar batik yang dihasilkan membawa energi positif bagi pemiliknya. Dengan resep batik idealis penuh filosofi dan pembinaan Sampoerna, Ferry sukses menembus pasar dunia, seperti Korea, Australia, Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara di Eropa. Harga jualnya pun fantastis. “Harga batik saya mulai harga Rp 450ribu, ada yang sampai Rp 75juta, bahkan Rp 250 juta,” tuturnya. Selain sukses berbisnis, Ferry punya jiwa sosial tinggi. Untuk mendukung bisnisnya, ia membina 15 orang pembatik warga Desa Gunting, Pasuruan yang sebagian besar tidak lulus sekolah. Selain itu, Ferry aktif sebagai mentor pelatihan membatik dengan pewarna alam yang diselenggarakan Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna atau Sampoerna Entrepreneurship Training Centre (SETC). PPK Sampoerna, menurut dia, sangat mendukung para pelaku UKM, termasuk dirinya. Di bawah pemberdayaan PPK Sampoerna, bisnisnya berkembang pesat. Kesempatan mengikuti pameran yang diselenggarakan PPK Sampoerna menjadi kesempatan besar bagi Ferry untuk memperkenalkan produknya. Selain mengikuti pameran, ucap Ferry, UKM binaan PPK Sampoerna juga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan terkait dengan peningkatan kualitas produk dan packaging. Ujungnya, mereka bisa membuahkan produk UKM berkualitas serta menembus pasar dunia seperti kesuksesan bisnis yang sudah diraih Ferry. Karya Ferry juga mendapat apresiasi dari Kementerian Pariwisata berupa Penghargaan Nayaka Pariwisata
18 Nov
Di Tangan Vania Santoso, Karung Semen “Disulap” Jadi Tas Cantik
Di usia 12 tahun, Vania Santoso kecil menyimpan keresahan tentang persoalan lingkungan setelah rumah tempatnya bernaung di Surabaya, Jawa Timur, terendam banjir. Bersama kakaknya, Agnes Santoso, Vania membentuk komunitas yang peduli pada isu-isu dan permasalahan lingkungan pada 2005. Ia menyebutnya sebuah proyek sosial yang fokus mengedukasi masyarakat dan siswa tentang berbagai isu lingkungan. Konsistensi Vania membangun kepedulian lingkungan membuahkan berbagai penghargaan. Kini, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga itu, fokus menjalankan usaha socio-preneur dengan memproduksi berbagai produk fesyen dengan mengusung brand “heySTARTIC”. Produk andalannya adalah tas berbahan bekas karung semen. Di tangan Vania, bekas karung semen itu “disulap” menjadi aneka produk bernilai jual tinggi. Usaha ini dijalankan Vania dengan melibatkan masyarakat sekitar dan beberapa wilayah di Jawa Timur. Ditemui saat Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) Expo, di Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu, Vania berbagi ceritanya. Penghargaan internasional pertama Dua tahun membangun komunitas peduli lingkungan, pada 2007, proyek sosial Vania dan Agnes, memenangkan kompetisi Lingkungan Internasional “Volvo Adventure” di Swedia yang diselenggarakan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Proyek itu bernama “Useful Water for A Better Future”. Dari ajang ini, ia meraih pendanaan internasional untuk pengembangan proyek lingkungan senilai 10.000 dollar AS. Uang pendanaan itu digunakan untuk berbagai proyek yang menunjang keberlangsungan komunitas. “Di sisi lain mikir, untung menang, kalau enggak ada sponsor gimana? Harus dipikirkan keberlanjutan finansial gimana,” kata Vania. Kemenangan itu tak membuat Vania larut. Ia terus berinovasi untuk menghasilkan produk yang layak jual. Berbekal hobi hand crafting, Vania merintis usaha produk daur ulang. Brand heySTARTIC dipilih sebagai akronim dari Start Being Exotic and Ethical. Produk daur ulang itu kerap dibawanya saat ada kesempatan ke luar negeri. Di luar dugaan, penjualan dan apresiasinya selalu tinggi. Inovasi tas berbahan karung semen Produk yang kini terus dikembangkan dan menjadi andalan heySTARTIC adalah produk fesyen dengan bahan baku bekas karung semen. Produk-produk itu di antaranya, tas tangan, laptop case, dompet, dan lain-lain. Sekilas, orang akan mengira bahwa produk itu merupakan produk kulit, bukan daur ulang karung semen. Harga produknya bervariasi, mulai Rp 50 ribu hingga Rp 800 ribu. Vania mengisahkan, inovasi ini awalnya muncul dari warga yang dibina oleh komunitasnya. Para warga ini dibina mengelola bank sampah di tiga wilayah, yaitu Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik. “Sampah apa pun yang masuk, dipikirin dikelola jadi apa. Bungkus kemasan kopi, koran, dan akhirnya jatuh di kertas semen. Ternyata, punya nilai jual juga di Indonesia,” kata Vania. Berbagai eksperimen dilalui untuk mendapatkan model dan kualitas seperti yang dipasarkan saat ini. Terutama, untuk mendapatkan pelapis yang tahan lama dan menghasilkan produk dengan kualitas baik. Menurut Vania, pelapis yang digunakan benar-benar ramah lingkungan dan tahan air. Dalam menjalankan heySTARTIC, Vania dibantu 11 orang warga yang dibinanya. “Kalau ada project besar, mereka bisa jadi supervisor di daerah mereka. Plus, kalau ada workshop mereka juga bisa jadi pelatihnya,” ujar Vania. Selain itu, dalam tim manajemen heySTARTIC, Vania melibatkan anak-anak muda, mulai dari siswa SMA hingga mahasiswa. Demikian pula para relawan yang terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. “Jadi yang support untuk workshop sebagai co-facilitator misalnya, dari anak SMA sampai kuliahan paling banyak,” kata dia. Belajar dari para entrepreneur mapan Proses yang dilalui Vania tak instan. Ia sempat jatuh-bangun, berpikir bagaimana produk-produk daur ulang bisa diapresiasi oleh konsumen Tanah Air. Dari pengalamannya, menjual produk di luar negeri lebih mudah jika dibandingkan dengan di Indonesia. Namun, Vania tak patah semangat. Ia terus berusaha menajamkan insting bisnisnya dengan mengikuti berbagai kesempatan yang bisa membuatnya menjadi lebih matang. Pada 2016, Vania mengikuti Wirausaha Inovatif Berbasis Sosial Lingkungan (WIBSL) yang diadakan Innotech dan Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) atau Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna. Ia terpilih sebagai juara dalam kompetisi ini. Dari sini pula Vania belajar banyak hal, terutama dari para pengusaha yang telah mapan. “Di PPK berproses beberapa bulan, dari online, karantina, pameran, presentasi. Saat itu menang dan dapat bantuan Rp 50 juta. Banyak dapat support, pengayaan karena dipertemukan dengan para entrepernuer yang sudah establish, ikut pameran-pameran, termasuk di Galeri House of Sampoerna,” ujar peraih Young Eco Hero dari Action for Nature (2008) di Amerika Serikat ini. Ia juga mengaku mendapatkan kesempatan untuk mendalami mengenai bisnis sosial di PPK Sampoerna. “Jadi waktu ikut WIBSL Sampoerna dan Innotech itu, kami dipertemukan langsung dengan para praktisi bisnis sosial yang udah mapan di bidangnya, misalnya Javara. Jadi bisa belajar langsung dari yang sudah ngejalanin. Oh, bisnis sosial itu seperti ini, bisa menggali story-nya,” kata Vania. Ke depannya, Vania berharap agar produk daur ulang dan ramah lingkungan semakin diminati di Indonesia. Oleh karena itu, untuk saat ini, ia fokus mengembangkan pasar dalam negeri. Alasannya, tujuan dari bisnis sosial yang dijalaninya adalah mengedukasi masyarakat Indonesia soal lingkungan. Kepada para generasi muda yang ingin berwirausaha, ia berpesan, agar mewujudkan mimpi. Tak hanya bermimpi, tetapi juga melakukan aksi. Apalagi, jika bisa bermanfaat bagi masyarakat. “Business plan terbaik adalah business plan yang dilakukan. Selain direncanakan, juga harus aksi. Percayalah, ketika kita sudah melakukan aksi, banyak hal yang di luar perkiraan kita,” ujar Climate Champion British Council East Asia Region 2010 ini.
18 Nov
Kisah Karyani, “Go Internasional” Berbekal Produk Minuman Herbal
Karyani (52) mungkin tidak menyangka usaha kecil yang dimulainya dengan modal sebesar Rp 50.000 bisa membawa dampak besar pada hidupnya. Wanita asal Desa Kesiman, Pasuruan, Jawa Timur (Jatim) ini berhasil merambah pasar internasional berbekal produk minuman herbal instan produksinya. Sejak 2017, Karyani telah melakukan penjualan herbal instan tanpa gula ke Korea Selatan sebanyak 200-300 botol per bulan. Saat ini, jumlahnya naik menjadi 400 botol per bulan. Selain pasar internasional, produk milik Karyani juga sudah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bali, Palembang, Yogyakarta, dan Samarinda. Padahal, dulu minuman herbal instan itu hanya dipasarkan di Pasuruan dan sekitarnya. Jeli melihat peluang Perjalanan bisnis Karyani dimulai sekitar tahun 2000. Dahulu, dia merupakan petani biasa yang tergabung dalam kelompok wanita tani Kesiman Jaya. Melihat hasil bumi, seperti temulawak, kunyit, dan jahe, yang tumbuh melimpah di daerahnya membuat dia tergerak untuk memanfaatkan. Apa yang dilakukan Karyani bukan tanpa alasan. Data Riset Tumbuhan dan Jamu pada 2012-2017 yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI menyebutkan, dari 30.000 - 40.000 jenis tumbuhan di Indonesia, sebanyak 6.000 - 7.500 di antaranya merupakan tanaman obat. Namun, mengutip dari Kompas.com, Sabtu (06/05/2018), baru sekitar 200 spesies yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Tak hanya sebagai obat, tanaman-tanaman herbal itu dapat bernilai ekonomi ketika diolah dengan tepat. Bahkan bisa menjadi bisnis yang menjanjikan. Menyadari hal itu, Karyani kemudian membulatkan tekad untuk mulai mengolah temulawak menjadi minuman herbal instan. "Saya mulai usaha sekitar 18 tahun lalu dengan modal hanya Rp 50.000 ditambah dengan keinginan kuat untuk mengolah berbagai hasil bumi yang bermanfaat," kata Karyani, seperti di kutip dari Kompas.com, Kamis (18/10/2018). Usaha tersebut dia beri nama Kesiman Jaya, yang terinspirasi dari nama desa tempat tinggalnya. Melalui nama itu, Karyani berharap dapat membuat desanya menjadi lebih sejahtera.
18 Nov
Widi Prayitno, Penggerak “Kopi Ledug” di Lereng Gunung Welirang
Kopi Ledug tak hanya menggerakkan perekonomian warga di Desa Ledug, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Kopi Ledug juga merekatkan hubungan antar-anggota keluarga petani kopi di kawasan lereng Gunung Welirang itu. Sekitar tahun 2009, Widi Prayitno prihatin akan rendahnya harga kopi yang dibeli oleh tengkulak dari petani kopi di desanya. Widi Prayitno adalah petani kopi dari Desa Ledug, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Harga ditentukan oleh tengkulak. Petani kopi tak berdaya. Widi tak berdiam diri. Pada tahun itu, ia mulai mempelajari dari hulu ke hilir pertanian kopi dan pemasarannya. Membesarkan usaha kopi dan mensejahterakan petaninya, menjadi keinginan Widi, yang juga Ketua Kelompok Tani Mitra Karya Tani (MKT). Kini, Kelompok Tani MKT telah mandiri, hingga mengemas dan memasarkan sendiri produknya yang diberi label “Kopi Ledug”. Merek ini mengambil nama desa yang menjadi lahan tumbuhnya kopi di lereng Gunung Welirang itu. Kopi Ledug tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi sudah merambah sejumlah negara di Asia, seperti Korea, Jepang, dan Taiwan. Kisah sukses Widi dan para petani kopi di Desa Ledug tak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Sampoerna Entrepreneurhip Training Center (SETC) atau Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna. Dari SETC, Widi mendapatkan peluang untuk belajar banyak soal peningkatan kapasitas produksi, kualitas kopi, pengemasan, hingga pemasaran produk. Ini kisahnya. Perjalanan panjang Widi mulai mewujudkan mimpinya dengan mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Pertanian mengenai pengendalian hama terpadu agar produk kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik. Ia juga tak melewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenal berbagai varietas kopi. Pada suatu waktu, ia bertemu seorang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan belajar banyak mengenai kopi luwak. “Saya tanya banyak, apa sih bedanya kopi biasa dengan kopi luwak? Kenapa kopi luwak bisa mahal, dan sebagainya. Akhirnya saya dikasih tahu banyak, termasuk mempersiapkan mesin yang bagus supaya kopi saat digiling tidak bau logam dari mesin,” kisah Widi, saat dijumpai beberapa waktu lalu di sela SETC Expo, di Denpasar, Bali. Saat itu, seorang pengusaha memberikannya modal sebuah mesin penggilingan kopi yang cukup baik. Kemudian, ia mencoba mengajak para petani kopi untuk budi daya kopi luwak. Awalnya, karena belum mengetahui, ia mengandangkan luwak-luwak yang akan memakan biji kopi. Ternyata, pengandangan ini tak sesuai aturan. “Saya belajar lagi dari situ. Oh, enggak boleh dikandangin, harus dilepasliarkan. Ya, ini proses belajar saya. Ternyata, setelah saya pelajari lagi, kalau dilepas liar malah biayanya lebih rendah,” kata Widi. Para petani kopi kemudian menanam pohon pepaya di tengah kebun kopi. Pepaya ini menjadi makanan luwak. Hasil panen di luar dugaan, bisa hingga 1 kuintal dalam sekali panen. “Tetapi, masalah lagi. Per kilo kopi luwak harganya Rp 150 ribu. Enggak ada yang bisa jual. Ada panen 1 kuintal, enggak bisa jual,” kata Widi. Padahal, lanjut dia, kualitas kopi yang dihasilkan para petani Desa Ledug berkualitas baik. Menurut Widi, Kopi Ledug istimewa karena paparan uap belerang dari Gunung Welirang. “Menurut LIPI, kopi saya itu terdampak uap belerang. Gunung Welirang itu penghasil uap belerang tebesar. Kebun kena dampak uap belerang kalau malam, semua tanaman. Uap belerang ini akan memengaruhi rasa dan mengubah cita rasa kopi yang biasa jadi luar biasa,” ujar dia. Namun, persoalan pemasaran menjadi kendala tersendiri bagi petani kopi. Ikut festival kopi dan bergabung PPK Sampoerna Widi tak patah semangat, Ia terus mencari tahu bagaimana agar Kopi Ledug yang istimewa bisa lebih baik pemasarannya. Setelah memenangkan berbagai festival kopi yang diikutinya, Widi direkomendasikan untuk bergabung dengan PPK Sampoerna pada 2012 dan bertahan hingga saat ini. Bahkan, Widi telah menjadi trainer bidang wirausaha kopi di PPK sampoerna Dari sini, ia mendapatkan pelatihan dari para pelaku UKM yang sudah lebih dulu bergabung. Salah satu yang dipelajari adalah terkait pemasaran. Jaringan dan kesempatan untuk mengembangkan diri juga semakin terbuka “Setelah bergabung dengan PPK Sampoerna itu, saya mulai belajar banyak. Sebelum ikut PPK, roasting aja enggak bisa, apalagi marketing. Sama sekali saya enggak bisa. Setelah ikut PPK, diajarin disiplin. Kalau kamu pemasaran seharusnya seperti ini, kemudian saya terapkan,” kata Widi. Dari pelatihan yang diadakan PPK, ia juga belajar soal pentingnya foto yang apik untuk memasarkan produk Kopi Ledug. “Dulu, saya foto pakai Hp, saya posting. Ternyata orang enggak minat karena foto enggak menarik. Ternyata ada caranya. Saya ikut kelasnya di PPK Sampoerna. Kemudian, barang saya sempat masuk di galeri SETC, saya sempat jadi best seller di situ,” kisah dia. Semua pengetahuan ini ia terapkan dan dibagikan kepada para petani di 5 desa yang ada di sekitar Desa Ledug. Kopi Ledug Gunung Welirang yang dipasarkan juga semakin bervariasi. Ada pilihan Luwak Arabica, Luwak Robusta, Organic Arabica, dan Organic Robusta, dengan kemasan yang lebih menarik. Jika sebelumnya hanya dibungkus plastik, kini ada yang dikemas dalam toples, maupun kemasan kantong yang lebih eksklusif. Pengemasan yang baik ini turut meningkatkan harga jual dan menarik minat pembeli. Kopi Ledug kini sudah memasok kebutuhan kopi beberapa kafe di Surabaya, Jakarta, dan Yogyakarta. Bahkan, Kopi Luwak Ledug sudah mendapatkan pelanggan tetap di Korea, Jepang, dan Taiwan. “Saya memakai jaringan teman TKI. Bos teman saya itu punya kafe. Pas dicoba ternyata rasanya cocok, dan harga dari saya jauh lebih murah,” kata Widi. Ia menceritakan, satu kilogram Kopi Luwak Arabica dijualnya Rp 1.600.000 per kilogram, sedangkan Kopi Luwak Robusta Rp 1.300.000 per kilogram. Harga ini sudah termasuk ongkos kirim ke negara-negara tersebut. “Sebelumnya, kafe di Korea itu beli dari Indonesia juga, harganya Rp 2.700.000 per kilogram. Dengan harga yang bagus dari saya, dia kemudian buka kafe lagi di Jepang dan Taiwan. Kopi semua dari saya,” ujar Widi. Hingga kini, pengiriman masih rutin dilakukan. Ke Jepang, rata-rata 10 kilogram per bulan (untuk jenis Luwak Arabica), Korea sebanyak 4 kilogram per bulan (Luwak Arabica dan Robusta), dan Taiwan biasanya 5 kilogram per bulan (Luwak Arabica dan Robusta). Gerakkan perekonomian dan eratkan keluarga petani kopi Kapasitas produksi kopi yang dihasilkan para petani kopi di Desa Ledug mencapai 200 kilogram, sementara untuk kopi luwak sekitar 30 kilogram per bulan. “Memang tidak banyak, tapi kontinyu produksi dan dipasarkan,” ujar Widi. Ia menyebutkan, seluruh proses dari mulai penanaman, panen, pengemasan hingga pemasaran melibatkan anggota keluarga petani kopi. Oleh karena itu, menurut Widi, pertanian kopi di desanya tak hanya memberikan dampak bagi perekonomian, tetapi juga mempererat hubungan keluarga para petani. “Pekerja dari kelompok tani kami sendiri. Bapaknya tani kopi, kemudian hasilnya disetorkan ke kelompok. Ibunya yang nyortir (kopi) dan packing, anaknya yang ikut kelompok tani memasarkan pakai Facebook. Jadi bapak supply kopi, ibu yang mengemas, anak pemasaran. Jadi bapak, ibu, anak, dapat gaji dari sini. Perekonomian hidup” kata Widi. Hal ini memberikan kebahagiaan tersendiri baginya, dan membuat Widi tak ingin menggantikan proses ini beralih ke mesin. Ia pernah menolak tawaran bantuan mesin pengemasan dari pemerintah daerah. Alasannya, tak ingin menghilangkan penghasilan para ibu yang selama ini terlibat dalam proses pengemasan. Para ibu, yang merupakan istri dari para petani kopi, terlibat dalam proses penyortiran, pengemasan, penjemuran dan pemanenan kopi. Penghasilannya sekitar Rp 60.000 per hari, dengan rata-rata penghasilan per bulan Rp 1.500.000 hingga Rp 2.000.000. “Sambil nonton sinetron, sambil momong anak, sambil berbincang mereka ngemas kopi. Ini kan tak boleh tergantikan. Kadang bapaknya, anaknya juga ikut. Di situlah saya dapat kenikmatan. Ternyata keluarga yang biasa tidak komunikasi, jadi komunikasi gara-gara melakukan ini. Di situ saya tersentuh dan berharap usaha ini semakin besar,” papar Widi. Anak-anak para petani ada yang aktif dalam membantu penjualan kopi secara online. Dari sini, mereka bisa mendapatkan sekitar Rp 1.000.000 per bulan. Sementara, para petani bisa mendapatkan Rp 1.500.000 per bulan dari hasil panen kopi, ditambah dengan hasil panen buah-buahan lainnya seperti alpukat, pisang, pete besar, cengkih yang bisa mencapai Rp 2.000.000 per bulan. Tak kurang dari 22 Kepala Keluarga (KK) mendapatkan penghidupan dari tumbuh suburnya produksi kopi Ledug. Kembangkan wisata edukasi kopi Harapan Widi untuk membesarkan usaha kopi yang dikerjakan para petani kopi Desa Ledug mulai terwujud. Salah satu yang dikembangkan saat ini adalah wisata edukasi kopi. Kelompok-kelompok tani dari berbagai daerah kerap berkunjung untuk belajar. Usaha wisata edukasi kopi ini juga dikelola MKT. Para petani diberikan kepercayaan untuk menjadi pengajar mengenai budidaya, pemupukan, okulasi, dan lain-lain. Dengan cara ini, para petani juga akan mendapatkan tambahan penghasilan. Selain itu, disediakan pula dua pondok bagi mereka yang ingin bermalam. Satu pondok bisa diisi hingga 6 6 orang dengan biaya Rp 100 ribu per orang, termasuk makan pagi, siang, dan malam. “Untuk paketan, pengen belajar lagi, yang non anggota kelompok tani Rp 50.000 per kepala. Nah petani yang jadi pengajar dapat tambahan penghasilan lagi, dan saat ini berkembang terus,” kata Widi. “Sampoerna kalau ada tamu-tamu dari luar juga sering diajak. Senang mereka, malam-malam bangun lihat aktivitas luwak, dan sebagainya,” lanjut dia. Usaha kopi MKT yang semakin berkembang, membuat para petani semakin bersemangat. Ia berharap, ke depannya semakin besar dan bisa menghadirkan inovasi lainnya. “Kopi ini binaan Sampoerna, saya juga mau inovasi terus seperti Sampoerna yang selalu inovasi. Jadi kalau misal ada masukan, terobosan, kami akan belajar terus. Saya tidak mau lepas dari SETC karena ingin terus berinovasi,” kata Widi.